Lintasan66 |BATAM~~~ Peristiwa blackout atau pemadaman listrik massal di wilayah Batam-Bintan yang terjadi pada Senin, 12 Oktober 2026, disorot oleh sejumlah pihak.

Batam sedang gencar digadang-gadang menjadi pusat investasi digital dan Data Center (pusat data) utama di Indonesia.

Namun, ambisi besar tersebut seketika “tumbang” dan lumpuh selama belasan jam akibat gangguan seekor satwa liar (hewan) di Gardu Induk Sungai Harapan.

Industri digital seperti Data Center menuntut pasokan listrik yang menyala 24/7 tanpa kedip sedikit pun. Namun, sistem proteksi otomatis (relay) lokal ternyata gagal mengisolasi masalah kecil dari gangguan hewan tersebut, sehingga memicu efek domino (cascading failure) yang merobohkan seluruh sistem pembangkit.

Warganet dan pengamat ekonomi (salah satunya diulas oleh kreator konten data Danan Wahyu di Instagram) mengkritik bahwa sistem kekebalan jaringan listrik Batam terbukti masih rapuh.

Selain merugikan UMKM dan pekerja WFH, pemadaman ini menjadi alarm keras (red flag) bagi kepercayaan investor asing bernilai triliunan rupiah yang ingin menanamkan modal di sektor digital Batam.

Insiden ini menjadi pengingat berharga bagi pengelola kelistrikan seperti PLN Batam bahwa membangun ekosistem digital yang canggih tidak akan ada artinya jika infrastruktur dasar seperti jaringan energinya belum andal dan rentan lumpuh oleh faktor sekecil apa pun.

Tokoh anti korupsi Suparman dimintai pendapat mengatakan, penyebab gangguan kelistrikan cukup parah ini harus diinvestigasi secara menyeluruh dan dibuka secara terang benderang ke publik, tidak cukup dengan sampai di hewan saja.

Suparman juga mendesak PLN Batam memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak pemadaman listrik cukup parah itu sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta regulasi terkait lainnya.

“PLN Batam harus menjelaskan bentuk tanggung jawab perusahaan dan memastikan pemenuhan hak pelanggan sesuai ketentuan,” terangnya.

Sebelum menutup tanggapan, Suparman menambahkan, biasanya Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, jika ada sesuatu yang terjadi di kota batam, langsung sidak dan buat pernyataan yang menghebohkan.

Akan tetapi sejauh ini Li Claudia, belum mengeluarkan pernyataan yang terkait insiden hewan liar tersebut, kenapa diam?

“Buah dari kesombongan menuai badai, digadang-gadang jadi kota digital, selesai oleh seekor hewan” tutup Suparman.

Hingga berita ini disusun, media ini belum mendapat keterangan resmi dari PLN Batam.

Redaksi menyediakan ruang klarifikasi bagi pihak terkait.(Tim)